Datang dari kota kecil
di Jawa Tengah, Zaky merasakan perbedaan budaya yang besar ketika pertama kali
masuk ke Jurusan Teknik Informatika ITB. Jika di Jawa Tengah kultur budayanya
lekat dengan sikap merendah dan memendam perasaan, kultur di ITB membuatnya
harus beradaptasi dengan kebiasaan outspoken
dalam mengemukakan pendapat.
Kegigihan pemuda asal Sragen ini dalam
urusan kuliah dibuktikan dengan berhasil meraih IPK sempurna 4,0 di semester
pertama. Ketika itu Zaky
sangat memanfaatkan waktu yang ia miliki untuk membaca,
mengulang materi kuliah, serta mendatangi kakak angkatan setiap ada materi yang
dirasa belum dikuasai. Berlanjut di
semester dua, Zaky bergabung di unit
kemahasiswaan bernama Amateur
Radio Club (ARC), sebuah club yang dulu didirikan oleh Onno W Purbo. Dari sinilah Zaky
mendapatkan pengalaman nyata mengoprek komputer, jaringan, dan sejenisnya.
“Selain
pengalaman, mengikuti kegiatan
juga membuat kita mendapat
banyak teman. Percayalah, teman ngerjain
tugas bareng, susah bareng, tidur bareng, atau seneng-seneng bareng di sekolah nanti akan sangat
membantu di masa depan. Banyak teman saya dulu waktu di kampus yang membantu
sama-sama membesarkan Bukalapak sekarang.
Pendiri Bukalapak semua teman waktu di kampus ITB, ucap CEO Bukalapak ini.
“Perjuangan
mencapai kesuksesan tidak ubahnya seperti memperjuangkan perasaan. Jadikan
kegagalan sebagai pembelajaran. Jadikan penolakan sebagai pembuktian diri. Yakinlah kita pasti bisa!” imbuhnya.
Setelah lulus kuliah tahun 2004, Zaky mulai menjajaki
usaha di bidang e-commerce. Beberapa
bulan setelah lulus, Zaky
mendapat ide untuk membuat Bukalapak, sebuah e-commerce
jual beli yang aman bagi semua orang. Bukalapak.com memiliki
visi untuk mengubah hidup banyak orang dengan memajukan UMKM lewat internet. Meski saat itu pengguna internet sangat terbatas dan
masih menggunakan warnet untuk akses internet, dia tetap percaya jika bisnis ini akan sukses.
“Saya
cerita ke teman-teman tidak ada yang percaya dengan ide ini. Mereka memilih
bekerja di perusahaan yang sudah mapan. Hampir sebagian besar menolak untuk
bergabung. Banyak juga yang menertawakan bahwa bisnis internet itu enggak
nyata. Akhirnya ada satu teman yang percaya! Sampai saat ini saya juga masih
bingung kenapa dia bisa percaya sama saya waktu itu. Dialah co-founder
dan CTO Bukalapak sampai saat ini,
ungkapnya dengan lantang.
Walau banyak yang tidak percaya, Zaky dan seorang temannya fokus
mengembangkan Bukalapak secara diam-diam. Setelah selesai tahap pengembangan,
Achmad Zaky mengajak para pedagang di mall untuk bergabung di Bukalapak.com.
Sayangnya respon yang diberikan para pedagang di mal sangat rendah. Respon positif justru
datang dari pedagang kecil. Sejak itulah Achmad Zaky dan tim Bukalapak.com
fokus mengajak para pelaku UMKM. Pada tahun 2011, Bukalapak.com telah memiliki 10.000 pelapak yang
bergabung dan jumlah tersebut terus bertambah. Kini, jumlah pelapak yang
terdaftar di Bukalapak.com telah mencapai 2,2 juta orang dengan pengguna aktif
yang telah menyentuh angka 35 juta orang. Tak hanya itu, dalam sehari, jumlah
transaksi di Bukalapak.com telah mencapai 320 ribu transaksi dengan nilai ditaksir
menyentuh 1 miliar rupiah.
“Masa
muda adalah masa kritis yang tidak boleh disia-siakan. Ambil semua kesempatan
yang ditawarkan. Di sinilah kamu akan tahu apa yang benar-benar ingin dilakukan. Di momen ini, menurut
pengalaman saya, kita harus memaksa diri untuk melakukan banyak hal. Kalau
gagal ya udah. Nothing to loose. Masa-masa sekolah
tidak seharusnya disia-siakan untuk hanya belajar saja
tanpa melakukan apa-apa,” pangkasnya.
sip
BalasHapus